“Jika ingin mengaguminya, kagumi saja dia. Jika bersedia menumbuhkan sayap-sayap harap padanya, tumbuhkanlah! Lalu, Terbanglah tinggi-tinggi sejauh sayapmu mampu mengepak. Mau jatuh? jatuh lah. mau sakit, sakitlah…”

(dialog untuk diri sendiri? mungkin iya.) :[

“Jika suatu saat nanti aku menyadarinya kemudian aku memanggilmu, maukah kau menoleh?”

“Apakah sebuah penyesalan mampu membuat waktu menoleh? Ku rasa tidak.”

Surat Kardus: Di Satu Hari Yang Indah

suratkardus:

Aku menulis ini untuk kenangan yang terlupakan. Tentang dirimu dan bagaimana aku menerjemahkanmu.

Hai, bagaimana kabarmu? Sekarang ini aku sedang kacau dengan benang masa depan yang sangat kusut. Masa lalu terlanjur menertawakanku, memang bebal, membuatku sangat haus untuk memeluk mereka.

Jadi,…

Aku (harap) bisa mencintaimu, bahkan saat kamu lupa mencintai dirimu sendiri…

Surat Kardus: Pesan Hujan

suratkardus:

Aku menulis ini untuk hujan di balik jendela kamar. Kau membuatku menggigil.

Sebelumnya aku pernah mengecupmu dengan embun manis di pagi hari. Hidungku dingin dan leherku beku. Mataku sering berpejam untuk bahu yang sering kau hujami, aku berharap impianku yang masih kugantung tentangnya belum…

Apa kamu tahu?

Saat hujan datang, matamu baru melihat.

Saat tak satupun payung melindungi dari tikaman hujan, bibirmu baru berkata.

Saat hujan menenggelamkan, hatimu baru tergerak….

mana kau tahu?

mana kau mau tahu!